Labels

Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 November 2011

Jaldi Eik So Tees


by : Firman Arifandi

         Pengap. Sejam lebih sudah aku berada di tengah kerumunan lautan manusia di jantung sektor G-6 Islamabad ini. Aabpara market tepatnya, dimana kedua kakiku saat ini melangkah gontai menyusuri setiap ruas gangnya, pandanganku menyebar ke hampir semua sudutnya. Tersenyum kulihat toko hape produk China di seberang kiriku, bersebelahan dengan toko itu, dua jenis daging digantung, yang satu berwarna merah muda pucat kuyakin itu daging kambing dan satu lagi berwarna merah terang. Daging sapi. Ya gak mecing banget pikirku, toko hape kok sebelahan sama toko daging, mambu.  Kuseka peluh yang mengucur di dahiku, sedikit puas karena beberapa barang belanjaan untuk acara nanti sudah kudapatkan. “hmmh..tinggal potocopy dan beli snack nih” gumamku sendiri dalam hati. Langkahku masih gontai. Enjoy menikmati pemandangan belanja di pasar yang mayoritas pedagang dan pembelinya adalah bapak-bapak. Semua tau bahwa di negri paratha ini, wanita hampir tidak boleh keluar sama sekali, malas juga aku mikir panjang tentang ini, yang pasti sekarang aku harus selesaikan belanjaanku dulu.

Jumat, 24 Desember 2010

Bunuh Kamran

Bunuh Kamran

Mungkin jam 12 siang ini, atau mungkin kutunda saja dua tiga jam lagi. Ah, entahlah. Keinginanku ini selalu saja menghantuiku dan akan terus menghantui jika tidak benar-benar kulakukan. Aku ingin sekali membunuhnya. Ya, menghentikan denyut nadinya, menghentikan detak jantungnya. Jengkelku sudah kepalang meradang.
Mumpung kelas sudah kosong, semuanya sudah bubar dan biasanya dia suka berjam-jam menyendiri di ruang kelas berukuran 8x8 yang lumayan luas ini. Tembok dengan cat putih memudar, satu pintu di samping kanan yang masih kuat dan 4 kipas angin di langit-langit ruangan masing-masing di samping kanan dan kiri kelas. Semua itu akan menjadi saksi tragedi berdarah ini. Memang seusai kuliah dia tak pernah langsung keluar, biasanya suka berjam-jam hingga bus jemputan tiba pukul 17.00 nanti. Jengkelku padanya sudah merambat ke sekujur jiwa mengalir bersama darah menyatu menjadi dendam dan benci.

Jumat, 15 Mei 2009

X 28



Seperti halnya Ahmad, Ma’mun, dan Herman, akupun hanya bisa diam terpaku sore itu ditengah taman asrama seraya sesekali melihat ke arah para beberapa mahasiswa asal Somalia yang asyik bermain bola di bagian kiri area parkir. Tidak cukup lapang memang tempat parkir yang mereka gunakan untuk main bola tersebut. Namun bagaimanapun, sepetak tempat berpafing itu sudah cukup bagi mereka untuk sekedar bersama melepas jenuh, mengeluarkan keringat, berbagi kebahagiaan dengan sesama mahasiswa rantau berkulit hitam itu. Pemandangan berbeda terlihat di sebelah kanan area parkir. Ya, para mahasiswa Pakistani yang lagi enjoy dengan bidang olah raga favorit mereka, apalagi kalo bukan cricket. Begitu antusiasnya para penonton bertepuk tangan kepada baller yang berhasil mengecoh lawannya hingga gagal menangkis bola. Riuhnya tepuk tangan itu tetap tak menggoyahkan interes kami untuk berpaling dari soccer, basket ball dan volley yang lebih berkeringat, lebih enerjik, lebih membakar keringat dan tentunya lebih bertenaga dibanding permainan cricket yang menurut kami terkesan kurang fun, monoton, ya...gitu-gitu aja. Namun bagaimanapun, aku tetap acung jempol buat Pakistan, dengan tetap konsisten bermain cricket hingga tim merekapun bisa masuk kelas international untuk game ini. Tak jauh dari keramaian sejumlah mahasiswa somali dan pakistani dengan olahraga masing-masing sore itu, tampak sederetan taxi yang ngetem alias mangkrak menunggu penumpang datang, sementara beberapa terlihat bercakap-cakap saling tawar harga dengan calon penumpangnya, beberapa yang lain tampak santai duduk menunggu penumpang, penuh harap tapi tanpa usaha. Memang, aku sempat berpikir tentang mereka para supir taxi Pakistan yang kurasa cukup kuat tawakkalnya, tapi gak dibarengi ikhtiar dan do’a sebelumnya. Mereka rela menunggu berjam-jam duduk di dalam taxi hingga penumpang datang, dibanding keliling mencari penumpang. Pikirku, bila dalam satu jam digunakan untuk operasi keliling pasar saja, kira-kira dalam durasi kurang dari setengah jam, satu penumpang sudah bisa digaet. Dibandingkan hanya menunggu dan menunggu, itupun kalau ada penumpang, waktu terbuang sia-sia. Hmmmhh... however, mereka terkesan malas menurutku. Memangnya rejeki Allah itu langsung turun begitu saja apa...?aku sempat berpikir demikian. Bagaimana tidak, kita semua tahu rezeki itu memang sudah atas otoritas Tuhan, kapan dan kepada siapa saja akan dilimpahkan. Namun, kita juga dituntut untuk berusaha meraihnya,dan itu sudah menjadi perintah mutlak dari sang Kholik kepada hamba-Nya.

Selasa, 12 Mei 2009

Karena Aku Lelaki


-->


Siang itu di jalan raya depan asrama putra.
“piche karo!! Piche chand log reh gay hein..!!” teriak kenek bus kampus menyeru kepada para penumpang yang berdiri untuk mundur karena ada beberapa penumpang yang masih di luar bus.
Hmmh...suasana seperti ini sudah sangat familiar bagiku, berdiri di dalam bus kampus yang pengap, sesak, berdesakan. Udara di dalam bus terkontaminasi bau badan orang-orang yang setelah seharian beraktifitas , Pakistani khususnya. Bercampur aroma parfum penumpang lain yang beraneka ragam, mual. Entahlah, dari situ aku sering bertanya-tanya, masa sih ada aja orang yang gak sempat meluangkan waktu 30 detik aja untuk make deodorant. Ditemani deruan suara bus, berisiknya beberapa penumpang yang asyik ngobrol satu sama lain, akupun enjoy di dalam bus ditengah udara Islamabad yang bertemperatur 37 derajat siang itu. Cukup panas memang, tapi bukan alasan bagiku untuk berhenti berbuat, malas-malasan di dalam kamar di bawah belaian dinginnya kipas angin, tidak.

Kamis, 20 November 2008

Surat Anggun



“Kya eik so pachas Bhaijan? Me amuman eik so bees de taho..” ujarku kepada supir taxi menawar harga borongan yang ditawarkan kepadaku,sudah jadi kebiasaan supir taxi di sini menaikkan tarif khususnya kepada orang-orang foreign.
Pfuhh… Pengap, ini bukan kali pertama aku menginjakkan kaki di antara asap-asap polusi, ributnya kendaraan memekakkan telinga, kotor dan kumuhnya jalanan di salah satu kota negeri Ali Jinnah ini. Tempatnya terletak tak jauh dari Islamabad. Namanya kota Rawalpindi, di sini tersedia kitab-kitab berbahasa arab dengan kualitas kertas yang tentunya tidak mengecewakan. Ya, sesekali dalam sebulan aku menyempatkan diriku untuk hunting book ke toko kitab di Rawalpindi. Kalo dihitung-hitung, rasa capek menempuh perjalanan selama kurang lebih sejam setengah naik wagon tidak ada apa-apanya bila dibayar dengan rasa puas bisa memborong buku dengan harga yang jauh lebih murah dibanding dengan yang ada di toko-toko buku di Islamabad dan tentunya dengan kualitas yang lebih baik pula, bayangkan saja dengan modal 1500 rupes aku bisa mendapatkan setidaknya 4 kitab dengan kualitas kertas beirut. Tapi kali ini aku tidak lagi berdesak-desakan diatas wagon, karena aku, Roni dan Muslih sepakat patungan naik taxi dari kampus.

Kamis, 28 Agustus 2008

MENGHITUNG PURNAMA

MENGHITUNG PURNAMA

Baskoro diam terpaku di monument Pakistan senja itu, nyaris sama seperti patung pahlawan revolusi. Seraya menikmati matahari yang perlahan tenggelam ke ufuk barat mempersilahkan sang rembulan menempati ruang singgasana malamnya. Indahnya kemerahan mentari tampak dari monument, beriring bisingnya kendaraan yang melintasi sepanjang kota Islamabad yang indah. Seiring lalu-lalang kendaraan, desahan hati Baskoro menambah ramai keadaan, “ hmmh..” Desahnya. “ bosan aku lama – lama di sini… Itung–itung umur, dulu aku telat masuk jami’ah ini, jadi ketuwe’en aku di Pakistan…ckk... hmmh..” desahnya lagi. Sebenarnya bukan hanya faktor usia yang membuatnya bosan dan ingin cepat – cepat pulang. Ada banyak hal yang kini menyadarkannya betapa dia telah terlena dibawa waktu, sehingga dia tidak sadar kalau sudah seharusnya dia pulang mengabdikan diri di masyarakat. Belum lagi inbox yang masuk ke emailnya minggu lalu, kiriman email dari temannya, Slamet yang mengabarkan kalau dia sudah menikah 12 Januari lalu, itu artinya sudah lewat satu bulan sampai sekarang kabar pernikahannya. Slamet Budiyono, satu-satunya teman dekatnya yang hobinya nyetrum ikan tiap sore di sungai samping surau Pak Manan. Seorang Slamet yang setiap pulang sekolah suka mampir di perkebunan coklat, lalu nyolong buahnya dari balik pagar beton dan memakannya besama teman-teman lainnya, kini sudah jadi PNS di kecamatan, “ wah, kacau...telat aku” pikir Baskoro.