Labels

Tampilkan postingan dengan label THEATERICAL POETRY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label THEATERICAL POETRY. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 November 2011

Kancil


by : firman

Kancil adalah binatang yang cerdik
Cerdik mencuri timun...
Di kebun pak Tani
Sekalipun pagar besi berduri
Mengelilingi kebun pak tani
Si kancil tak pernah kehilangan akal
Mencuri timun lagi
          Kata orang...
          Mayoritas pembesar-pembesar bangsaku
          Juga orang cerdik loh...
          Cerdik seperti kancil...

Firman
Islamabad, 28 Juli 2008 oNorm� w s a XM� p � style='font-size:14.0pt;mso-ansi-language: IN'>Untuk kejayaan kita...
          Yakinlah dengan kebersamaan
          Keharmonisan dan rasa saling percaya...
          Kita raih masa depan bangsa

Firman
Islamabad, 26 Juli 2008

Sudahlah


by ; firman

Sudah..sudahlah
Lupakan saja semua
Kebencianmu akan keterpurukan bangsa
Tiada berguna
Sudah...sudahlah...
Jangan ada amarah
Bersama kita bangun..
Negeri ini tercinta..
          Biarkanlah nurani bicara...
          Satukan saja langkah
Kita bela bersama
Indonesia
Satukan...
Eratkan...
Semangat tuk membela
Berjuang...berkorban...
Untuk kejayaan kita...
          Yakinlah dengan kebersamaan
          Keharmonisan dan rasa saling percaya...
          Kita raih masa depan bangsa

Firman
Islamabad, 26 Juli 2008

Kemarin,hari ini samakah?




Lapar..
Ya...kemarin juga di jam yang sama
Kini terasa lagi...
Ojekku tak bisa operasi
langkanya BBM bikin sakit gigi
akibatnya motorku tak bisa beraksi...
          Semua tahu itu...
          Kemarin lusa anakku merengek...
          Minta SPP dilunasi
          Duh..
          Gigiku nyut-nyutan lagi
          Dibarengi pusing dan emosi
Dua hari lalu
Kemarin dan hari ini
Dompet tetap saja kosong
Tapi hutang tambah menggunung
Dan tagihan datang beruntun
Itu berarti
Kemarin dan hari ini tak sama...
Karena ada yang bertambah...
Ya ..aku yakin itu...

Firman
Islamabad, 24 Juli 2008

Lalat


by : firman

Bau menyengat...
Hinggaplah lalat
Kulihat dia..
Tertawa terbahak-bahak
Melihat sang rentenir
Dan konglomerat
Melakukan hal sama
Seperti apa yang dilakukannya..
Ya...
Menjilat..
Lalu..
Pejabat...?

Firman
Islamabad, 25 Juli 2008

Negeri Pecel

by : firman


Mengintip di balik angkasa
Negeri ijo royo-royo katanya
Tak terdengar lagi kini koarnya
Hanya simbol belaka
Kuintip lagi bersama angin
Di angkasa luas dan kuitari
Kembali setipa pelosok negeri ini
Hanya kutemui galau
Kacau...
Beriring riuhnya angin dari barat
Semua hukum adat dan kesopanan
Berubah menjadi kebebasan yang diagung-agungkan
Semua penghuni di tanah ini
Kini hanyut dibuai kebebasan
berbuat dan beragama
kuintip lagi di balik angkasa
seperti coklat campur aduk
bagai pecel dengan lauk kebebasan
dan ribuan konflik
hmmmh...
bukan negeri ijo royo-royo lagi
tapi negeri pecel
ya...betul...
tak lagi hijau...

                                      firman
                                      Islamabad,2 Juli 2008

Rayap


by ; Firman

Kagum aku melihat rayap
Yang kian lama kerjanya makin rapi saja
Memakan sedikit demi sedikit bagian dalam bangunan
Mulai dari bangku sekolahan
Sampai gedung-gedung pemerintahan
Orang-orang hanya bisa tinggal diam
Tercengang dengan kemegahan bangunan
Yang tak lagi kokoh
Karena kini rayap-rayap itu
Sudah punya strategi sendiri
Strategi jitu agar kerja tetap eksis
Tapi perut selalu terisi penuh tanpa ada ancaman
Dari pihak berwenang
Kembali bingung.....
Saat di pasar..
Seorang copet mukanya lebam
Hitam biru dihajar massa
Aku bertanya, kenapa?
Simpel saja dia menjawab
Ya...iya...lah....!!
Maling kan rakyat bukan rayap....

                             Firman
                             Islamabad,27 Juni 2008

Bangkit Kapan?


by : firman

Malu...!
Adalah kata singkat
Yang terucap
Dari mulut-mulut pengecut
Dan pengkhianat
Itu alasan ketidak perdulian
Karena enggan...
Tak mau berbuat
Justru datang hanya untuk menghujat
Mereka hanya mampu mengeluh dengan emosi
Tapi tak pernah menawarkan solusi
Ya...
Negeri ini tak butuh pengamat
Tapi butuh generasi-generasi yang mau berbuat
Bertindak bijak
Bertekad bulat
Dengan ikhlas tanpa harap pangkat
Ayo...
Kapan bangkit bangsa kita?
Mau sejahterakah?
Kapan bersatu dan kemudian membangun?

                             Firman
                             Islamabad, 11 Juni 2008

1001


by : firman

Welcome..
Selamat datang
Kami ucapkan..
Di negeri 1001 permasalahan
Di negeri dengan 1001 kekayaan
Yang di obral dengan tarif kiloan
Di negeri 1001 tuhan
Dengan 1001 kebebasan
Tanpa batas aturan keagamaan
Di negeri hampa
Tanpa segumpal harapan
Tempat di mana orang jujur
Tidak akan pernah mujur
Karena yang jujur
Akan selalu terbentur
Oleh jiwa-jiwa nyeleneh
Orang-orang kufur
Yang kerjaannya ngawur
Ngelindur
Ngalor ngidul
Ya,negeri ini adalah
Negeri 1001 janji
Tanpa ada realisasi pasti
Dari janji
Yang keluar dari mulut-mulut mereka yang kini
sudah duduk di kursi tertinggi
terbuai kenikmatan duniawi
serta lupa pada janji
yang dulu terhatur berapi-api
sungguh disayangkan
di tanah subur
yang banggakan beribu kekayaan alam
justru kemudian sengsara
dengan apa yang dibanggakan
betapa tidak..?
kini kekayaaan itu
sudah dimiliki bangsa lain
dengan tarif kiloan
                            
                                      Firman
                                      Islamabad,11 Juni 2008

Kita Merdeka


by : Firman arifandi

Indonesiaku
Negeri hijau nan tentram
Menyejukkan setiap sudut-sudut perasaan
Hari-harinya terkemas dalam ikatan keharmonisan
Kehidupannya terbingaki dalam aura perdamaian
          Tak heran bila keseharian bangsaku
  Selalu terpadu dalam riang tanpa sendu
          Nyanyian alam selalu menyapa tersipu
          Pohon dan rerumputan bernyanyi
          Melambai-lambai tanpa harap layu
Ribuan kata syukur
Dalam lubuk hati terhatur
Beriring indahnya hidup
Di tanah hijau yang subur
Ceria di wajah riang di hati
Selalu terhibur
          Sekalipun kini..
          Beragam permasalahan terus menghampiri
          Bencana alam datang silih berganti
          Mungkin inilah cobaan dari-Mu ya Rabbi
Peringatan dari-Nya
Agar kita tidak semena-mena
Atas nikmat yang telah dilimpahkan-Nya
Peringatan dari Tuhan, nenek moyang
dan para pejuang
Bahwa kita sudah lama merdeka
Bukan hanya merdeka dari kolonial Belanda
Tapi juga merdeka dari jiwa-jiwa feodal...
Merdeka dari belenggu kaum liberal..
Merdeka dari pengaruh gaya hidup barat yang bejat
Merdeka dari hukum rimba
Karena kita bukan orang primitiv pula
Merdeka dari jiwa egoisme
Dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme
          Aku tetap berpegang teguh..
          Bahwa aku lahir di negeri ini
          Dari tanah negeri ini
          Dan untuk negeri ini
          Maka dimanapun kupijakkan kaki
          Jiwaku tetap untuk negeri ini
          Aku siap mengabdi
                                     
                                      Firman
                                      Islamabad,4 Mei 2008

Kamis, 28 Agustus 2008

KISAH GURU HONORER

Kisah Guru Honorer

Hmmmh….
Melas hidupku ini
Sutil wajan dan panci
Di malam ini jadi saksi
Entah bagaimana nasib keluargaku
minggu ini
Makan nasi, roti,
Atau hanya sekedar ubi
Belasan tahun aku mengabdi
Untuk negeri ini
Tapi...
Mana ada yang peduli
Aku tak juga diangkat
Sebagai pegawai negeri
Terik mentari membuat kulitku hitam kelam
Sepanjang perjalanan
Meski demikian
Aku tetap ingin kokoh dan bertahan
Hanya demi satu niat dan tujuan
Mengabdi kepada negara
Dan berharap ridho Tuhan
Tak apalah seratus ribu sebulan
Kuanggap ini adalah resiko sebuah ketulusan
Asalkan aku bisa mencetak calon-calon ilmuwan
Hmmmh....
Memang sih..isi dompetku tak penuh
Namun walau demikian
Aku bercita-cita kelak
Anak didikku
Bisa memperbaiki negeri ini lebih jauh
Laksana pasir
Sebuah bangunan tak akan kokoh tanpanya
Sekalipun dia tak nampak
Namun perannya dalam sebuah bangunan
Adalah unsur terpenting
Aku ingin di masa depan kelak
Kala anak didikku sudah menjadi orang layak
Mereka tidak lupa dengan jasa orang-orang
Yang pernah berbuat banyak
Yang kedudukan serta keberadaanya
Tidak pernah diperhatikan khalayak..

Firman
Islamabad, 2 Juni 200

Selasa, 22 April 2008

BANGSAKU BERSELIMUT LARA

Sendiri…
Kukemas rasa gundah di hati
Kala sang surya tak lagi berseri
Di seluruh pelosok negeri ini

Ada lara yang membengkak
Perlahan menggunung dan kini kian membengkak
Saat negeri ini kehilangan jejak
Manjauh dari nilai – nilai dan corak
Oleh tangan orang – orang yang congkak

Entah kemana larinya etika..
Saat tangan - tangan yang penuh dengan nista
Diam - diam meremas, merusak, memporak - porandakan budaya
Oleh jiwa busuk tikus - tikus Negara

Ke mana larinya tanggung jawab
Saat Negara ini diselimuti jiwa – jiwa biadab
Perlahan memanas, mengepul
Lalu hancur seolah – olah tanpa sebab
Meninggalkan kebinasaan yang nyaris merambat

Ketika kebebasan dituhankan
Keagamaan dan nilai moral dilecehkan
Rasa malu dianggap kemunafikan
Yang telanjang dijadikan seni kehidupan

Awalnya pornografi
Alasannya jiwa seni
Dampaknya pergaulan bebas sana sini
Akibatnya dihalalkan aborsi

Kudengar..
Rintihan burung cenderawasih
Menggelepak kesakitan di pelosok Irian jaya sana..
Hatinya pilu bercampur sedih
Bertanya – Tanya kepada alam yang kini sudah tak punya belas kasih
Kenapa jiwa manusia kini tak lagi bersih..
Kenapa mereka yang menjadi khalifah di bumi
Jiwanya lebih rakus daripada bangsa kami…

Aku malu...aku malu… aku malu…
Aku bertanya kepada pohon - pohon yang tak lagi menyapa tersipu
Ada apa… dengan bangsaku…

Seakan dunia ini semakin kejam
Hidup ini semakin remuk redam
Ya gusti…ya gusti…
Rasanya ingin aku berlari
Lepas dari semua kenyataan yang kau murkai ini..

Bangun pemuda…
Saatnya kita bangkit dari tidur panjang
Di dirimu ada harapan
Di tanganmu ada masa depan
Dan pastinya tuhan tidak akan tinggal diam
Dia yang Maha segalanya
Masih limpahkan kaum – kaum bijaksana
Demi kokohnya kedaulatan bangsa kita

Patutnya kau jadi orang yang bersyukur
Dianugrahi kesempatan berbaur
Bersama orang – orang berpekerti luhur
Di negeri yang kini sudah tak lagi makmur
Bila susah ada yang menghibur
Bila sedih ada yang mengatur
Bila salah masih ada yang menegur

Kami tahu ada perasaanmu yang mengganjal
Mengapa dulu kami tidak maximal
Mengapa dulu kami tidak optimal
Mengapa dulu kami tidak membangun negeri ini secara total

Kini tanggung jawab ada di tanganmu
Bukan saatnya lagi kau menyalahkan orang – orang terdahulu..
Yang hanya diam membisu
Saat ketidakadilan terus memburu

Pemuda..
Jadilah orang yang menyatakan kebenaran
Bukan membenarkan kenyataan
Jadilah orang yang bermanfaat bagi umat
jadilah kau orang besar dan bertanggung jawab
jangan lari dari kenyataan…
tapi hadapilah dan tuntaskan…