Kamis, 20 November 2008

Surat Anggun



“Kya eik so pachas Bhaijan? Me amuman eik so bees de taho..” ujarku kepada supir taxi menawar harga borongan yang ditawarkan kepadaku,sudah jadi kebiasaan supir taxi di sini menaikkan tarif khususnya kepada orang-orang foreign.
Pfuhh… Pengap, ini bukan kali pertama aku menginjakkan kaki di antara asap-asap polusi, ributnya kendaraan memekakkan telinga, kotor dan kumuhnya jalanan di salah satu kota negeri Ali Jinnah ini. Tempatnya terletak tak jauh dari Islamabad. Namanya kota Rawalpindi, di sini tersedia kitab-kitab berbahasa arab dengan kualitas kertas yang tentunya tidak mengecewakan. Ya, sesekali dalam sebulan aku menyempatkan diriku untuk hunting book ke toko kitab di Rawalpindi. Kalo dihitung-hitung, rasa capek menempuh perjalanan selama kurang lebih sejam setengah naik wagon tidak ada apa-apanya bila dibayar dengan rasa puas bisa memborong buku dengan harga yang jauh lebih murah dibanding dengan yang ada di toko-toko buku di Islamabad dan tentunya dengan kualitas yang lebih baik pula, bayangkan saja dengan modal 1500 rupes aku bisa mendapatkan setidaknya 4 kitab dengan kualitas kertas beirut. Tapi kali ini aku tidak lagi berdesak-desakan diatas wagon, karena aku, Roni dan Muslih sepakat patungan naik taxi dari kampus.

Kamis, 23 Oktober 2008

Menelusuri Fenomena Pendidikan Di Tanah Air

Menelusuri Fenomena Pendidikan Di Tanah Air
oleh : Firman Arifandi

Bila kembali berbincang tentang pendidikan di Indonesia, serasa sangat mengiris hati rasanya dikala saudara-saudara kita di daerah pingiran,dan pedalaman tidak dapat mengenyam bangku sekolahan dengan sistem wajib belajar 9 tahunnya. Ironisnya, daerah yang belum tersentuh oleh pendidikan adalah daerah yang mempunyai kekayaan alam melimpah yang bisa menjadi aset tertinggi untuk devisa negara, akhirnya kekayaan tersebut jatuh ke tangan investor asing, mungkin salah satunya dikarenakan sumber daya manusia yang tidak memadai. Karena sebenarnya penyeimbang sumber daya manusia yang mumpuni adalah kualitas pendidikan yang bermutu pula.
Setidaknya ada banyak hal yang menjadi faktor mengapa pendidikan begitu langka di beberapa tempat di tanah air, dalam kata lain pelaksanaan pendidikan di Indonesia kurang merata bahkan terkesan tidak diperdulikan. Pertama, adanya diskriminasi dan pengklasifikasian dalam pendidikan. Saat beberapa sekolah membenahi kualitasnya, dengan meningkatkan mutu pengajar , fasilitas dan lain sebagainya, seperti sekolah-sekolah berbasis kompetensi misalnya, maka Beriring itu juga ternyata sekolah-sekolah tersebut akan menaikkan biaya sekolah dengan harga yang tidak dapat dirogoh oleh kantong orang-orang tak punya. Dari sini seakan timbul satu justifikasi bahwa yang berada di bawah garis kemiskinan tak bisa mengenyam bangku pendidikan berkualitas. Kedua, pandangan masyarakat awam umumnya yang menganggap sekolah tidak berguna dan tidak menghasilkan uang. Setitik realita saat mayoritas orang-orang berpendidikan tidak mempunyai pekerjaan alias pengangguran, sehingga citra sekolah di mata orang awam semakin negatif. Ketiga, tradisi kolot atau tradisi kuno yang masih saja dikonsumsi sampai saat ini terutama oleh masyarakat pedalaman. Sejenak mari kembali kita mengingat film Denias yang menggambarkan hukum adat dan tradisi di Papua, daerah pedalaman dengan peradaban yang tertinggal yang kadang tradisi tersebut diterima mentah-mentah begitu saja oleh para generasi-generasinya tanpa adanya pertimbangan mengenai baik dan buruknya warisan adat tersebut. Saat ketidakadilan hukum adat yang hanya memperbolehkan anak-anak kepala suku untuk bersekolah,sehingga menimbulkan ketidaksadaran di antara orang-orang itu akan pentingnya pendidikan. Keempat, subsidi pendidikan yang mungkin kurang tepat sasaran. Saat ini pemerintah telah melakukan banyak hal menyangkut program-program pendidikan. Sekalipun subsidi pemerintah untuk pendidikan dianggarkan 20% dari APBN, namun semuanya serasa tidak terealisasikan secara maksimal saat ternyata daerah-daerah pelosok masih saja terbelakang dengan fasilitas sekolah yang tidak memadai bahkan bangunan gedung sekolahpun yang mengenaskan tak layak pakai. Kita tidak perlu mengkambing hitamkan siapa dan pihak mana yang belum mendistribusikan anggaran itu kini, tidak perlu jauh memperbincangkan fasilitas, komputerisasi dan lain-lain, cukup satu pertanyaan saja menyinggung itu semua ”kapan sekolah-sekolah itu direhab?”. Satu contoh lain menyangkut program pemerintah dalam menindaklanjuti masalah keterbelakangan untuk masyarakat pinggiran dan mereka yang ada di bawah garis kemiskinan adalah diadakannya BOS (Biaya Operasional Sekolah) yang membebaskan anak-anak mereka dari biaya SPP. Kerap ini cukup untuk sekedar meringankan orang-orang tak punya dalam menyekolahkan anak-anak mereka. Tapi kini, lagi-lagi timbul permasalahan saat biaya hidup melonjak naik , BBM langka dan kemudian mahal, maka harga kebutuhan sekolah anak-anakpun ikut mahal, kembali timbul pertanyaan di benak mereka ” memangnya biaya sekolah hanya SPP saja?”
Empat permasalahan di atas setidaknya adalah miniatur atau sekedar contoh kecil dari sekian banyak realita permasalahan yang menyebabkan minimnya kualitas pendidikan di daerah terpencil, khususnya. Namun, jika kita fokus dengan keempat faktor tersebut, setidaknya ada pula beberapa tindakan yang bisa ditawarkan sekalipun hanya untuk sekedar meminimalisir ketidakseimbangan tersebut.
A. Membentuk pandangan positif mengenai pentingnya pendidikan
Realita warisan tradisi nenek moyang yang ada seperti di Papua tersebut, sekiranya bisa diminimalisisir bila pemerintah daerah setempat, tokoh-tokoh masyarakat, dinas-dinas swasta dan lain sebagainya mau perduli akan pendidikan anak-anak dan masa depan daerah mereka. Sebenarnya itulah kewajiban bagi mereka untuk meluruskan pandangan masyarakat, bahwa pendidikan adalah sebuah proses untuk membentuk sikap, prilaku, serta mengasah kemampuan kita. Dengan mendirikan sekolah di daerah-daerah pedalaman, adalah suatu hal yang mungkin sekali dilakukan pemerintah dalam upaya meratakan pendidikan di tanah air, karena kendala yang juga ada adalah bukan hanya tradisi yang membatasi mereka untuk bisa menyentuh bangku sekolah, tapi juga letak sekolah yang jauh di kota sana.
Menyikapi pandangan orang awam yang terkesan pesimis dengan sekolah yang menurut mereka tidak mampu menghidangkan lapangan pekerjaan, adalah dengan kembali merefresh pandangan mereka menjadi positif. Apabila SDM kita sudah mumpuni, walaupun lapangan pekerjaan di instansi-instansi tertutup rapat maka kita akan mampu membuka atau mencari bahkan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Peran tokoh masyarakat dalam hal ini sangat dibutuhkan.
B. Subsidi yang tepat sasaran
Lagi-lagi pemerintah diharapkan untuk bisa lebih konsentrasi akan hal ini. Subsidi yang dikeluarkan pemerintah untuk program pendidikan sekiranya sudah banyak dan cukup untuk bisa direalisasikan. Hanya saja, mungkin dalam prakteknya dilapangan mereka kurang bisa tepat sasaran. Contoh kecil yang kongkrit, dalam program kebijakan pembangunan lima tahun (2005-2009). DEPDIKNAS memprogramkan banyak hal seperti rehabilitasi gedung sekolah, BOS (Biaya Operasional Sekolah), dan program pemanfaatan teknologi dan informasi . Yang nampak selama ini di lapangan adalah pesatnya komputerisasi di beberapa sekolah, sementara sekolah-sekolah yang lain bangunannya hampir rubuh dan bahkan belum ada tindakan rehabilitasi sedikitpun. Bukan bermaksud mengkambing hitamkan pemerintah, namun sekedar harapan agar bisa bertindak lebih objektif lagi sehingga sasaran yang dituju bisa benar-benar tepat.
C. Sosok Pendidik yang all out
Mungkin gagasan kalimat di atas cukup akan dipandang sebelah mata oleh sebagian besar orang. Namun bagaimana lagi? memang demikian kenyataanya. Sosok Pendidik atau guru adalah sebagai figur dan ibarat sebuah pondasi dalam dunia pendidikan. Proses pendidikan yang maksimal akan terbentuk pula bila sosok yang dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa ini juga maksimal dalam melaksanakan tugasnya. Maka dari itu, perlu kembali diingat bahwa pendidik itu adalah profesi bukan pekerjaan. Dalam artian, adalah salah bila yang menjadi target utama dalam mendidik adalah mengejar keuntungan berupa materi bukannya pelayanan terhadap masyarakat. Apalagi tenaga pengajar yang ada di daerah terpencil, sangat mustahil bagi mereka akan mendapatkan keuntungan finansial ketika memutuskan untuk menjadi pendidik di daerah terebut, lebih-lebih jika hanya menjadi guru honorer. Lantas, apakah guru tidak butuh duit?
Layaknya manusia bermasyarakat pada umumnya, seorang guru juga tentunya membutuhkan sumber penghasilan yang cukup untuk hidupnya. Siapa lagi yang perduli pada kehidupan mereka kalau bukan pemerintah. Maka dari sini pemerintah juga selayaknya memperhatikan kesejahteraan mereka, sang pendidik. Sehingga mereka bisa all out dalam profesinya. Kenyataan yang ada di tanah air adalah kebanyakan para guru disibukkan dengan pekerjaan sampingan sepulang aktivitas sekolah. Kapan mereka istirahat? Bagaimana persiapan mengajar untuk esok harinya? Kekhawatiran inilah yang kerap muncul ketika kesejahteraan guru sedikit kurang diperhatikan, karena sebenarnya pada pundak merekalah masa depan bangsa dibebankan.

Referensi :
www.depdiknas.go.id

Minggu, 21 September 2008

MERAMADHANKAN DIRI DALAM KESEHARIAN

Meramadhankan Diri Dalam Keseharian
Firman Arifandi

Durasi usia manusia tak lepas dari kumpulan detik demi detik, selanjutnya bagaimana dalam kumpulan detik-detik tersebut, manusia dalam kesehariannya dapat meraih suatu hal yang berguna bagi dirinya di dunia ataupun di akhirat kelak, sehingga durasi usia yang dimilikinya tidak hanya sebatas beraktivitas makan, minum dan tidur saja. Karena manusia adalah makhluk berakal ciptaan Allah yang tak sama derajatnya dengan binatang yang hanya mampu melakukan aktivitas seperti yang disebutkan di atas. Maka, manusia yang beruntung adalah mereka yang mampu menggunakan kesempatan dalam setiap saat sepanjang hidupnya dengan kebaikan.
Seperti halnya bulan Ramadhan, adalah bulan dimana Allah memberikan kesempatan pada manusia untuk bisa belajar beramal soleh. Karena itulah, bulan ini dikenal pula sebagai syahrut tarbiyah atau bulan pendidikan yang mana disini umat Islam dididik untuk bisa menahan diri dari hawa nafsu, lapar, dan dahaga dengan berpuasa satu hari penuh. Sebab hawa nafsu inilah yang menjadi pangkal dari malapetaka. Hawa nafsulah yang menyebabkan manusia lupa daratan, terlena dengan kenikmatan dunia dan maksiat. Kurang bersyukur dan tidak pernah merasa puas terhadap rezeki yang diperolehnya. Oleh karena itu, kita harus percaya bahwa Allah telah memberikan jaminan-Nya, dalam al – qur'an dikatakan :
وما من دابة فى الأرض إلا على الله رزقها ويعلم مستقرها ومستودعها كل في كتاب مبين ( هود: 6)
''Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).'' (QS Hud [11]: 6).
Tapi kalau hawa nafsu sudah terkendali, maka kebahagiaan akan terwujud, ketenangan jiwa dan kedamaian hati akan tercapai, pikiran akan jadi jernih. Tidak akan ada lagi resah dan gelisah dalam menghadapi musibah. Dan mungkin tidak akan ada lagi kata korupsi dan manipulasi. Semua akan berjalan lancar sesuai dengan jalur yang sudah ditentukan. Sebab jiwa akan semakin dewasa dan akan semakin bertambah matang. Disinilah sebenarnya kita mulai dilatih untuk meraih sifat tawakkal.
Dengan puasa pula manusia dididik untuk bisa saling berbagi dan memahami, merasakan penderitaan saudara-saudara yang tak mampu, yang mungkin dalam sehari dapurnya hanya mampu mengepul sekali saja. Dengannya, diharapkan akan lahir jiwa yang tulus dan sifat kebersamaan. Yaitu rasa senasib sepenanggungan, yang dipupuk oleh tali akidah dan ukhuwah. Di mana orang kaya dapat merasakan penderitaan orang miskin. Disini solidaritas antar umat muslim terbentuk, keperdulian dan kesatuan antar umat akan terjaga, karena di dalamnya pula terdapat kewajiban mengeluarkan zakat sebagai penyuci harta bagi mereka yang mampu. Keistimewaan bulan Ramadhan tidak hanya cukup sampai di sini saja, banyak kelebihan dan keistimewaan yang terpendam di dalamnya. Bahkan dikatakan bahwa hari-harinya adalah hari yang utama, malam-malamnya adalah malam yang utama, detik-detiknyapun demikian, bahkan tidurpun dianggap ibadah. Bayangkan saja, kalau tidurnya saja dianggap ibadah, bagaimana dengan membaca qur’an, bersadaqoh, zikir, dan lebih giat lagi beramal soleh?
Bulan Ramadhan membawa kita untuk bisa berbuat bijak, tidak ceroboh dan senantiasa bersabar, karena didalamnya terdapat peraturan-peraturan yang merupakan didikan nilai-nilai kedisiplinan, yang apabila semua disiplin tersebut dilanggar maka otomatis puasapun batal. Secara global, bulan ramadhan akan memahamkan kita makna takwa yang tak lain secara definisi umumnya adalah mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Sekian banyak referensi yang menyebutkan tentang keutamaan, hikmah dan manfaat bulan suci Ramadhan ini, dari segi kesehatan rohani maupaun jasmani , dari segi spiritualitas, dan lain-lain. Namun lagi-lagi kita sendiri tidak sadar akan kedatangan bulan Ramadhan ini yang dianggap hanya sebagai ritual dan rutinitas tahunan belaka, sehingga sedikit sekali hikmah dan manfaat ramadhan yang bisa diraih karena kelalaian dan ketidak sadaran kita. Bahkan terkesan bulan Ramadhan adalah bulan di mana orang-orang sibuk membuat masakan-masakan istimewa, belanja, bermewah diri dengan pakaian baru, bahkan sampai yang miskinpun ikut dipusingkan dengan hal tersebut. Ingat, sebelas bulan lamanya kita terlalu banyak memanjakan diri kita dengan kenikmatan duniawi, mudah terjebak denga hawa nafsu. Selanjutnya, kalau demikian halnya dengan hari-hari di bulan ramadhan, itu artinya setahun penuh kita disibukkan dengan keseharian yang sama tanpa ada waktu dimana kita berevaluasi dan melatih diri untuk bisa lebih baik. Sehingga sama saja derajat bulan Ramadhan dengan bulan-bulan sebelumnya. Maka tiada berartilah puasa yang dikerjakannya selain hanya rasa lapar dan dahaga, dalam suatu hadist Nabi dikatakan:

كم من صائم ليس له من صيامه إلا الجوع والعطس ( الحديث)

yang artinya:
“ berapa banyak dari sekian orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga”
Seperti halnya ibadah yang lain, bulan suci ini tidak datang dengan ganjaran dan pahala begitu saja tanpa ada usaha secuilpun dari masing-masing kita. Inilah Ramadhan, bulan yang bila kita bisa menyikapi dan memanfaatkannya secara maksimal tentunya kualitas keimanan dan ketaqwaan kita akan meningkat, bahkan hikmah dan manfaat yang seringkali disebutkan bisa sesempurna mungkin kita raih. Kalau kita kembali mengingat bahwa bulan suci ini juga dinamakan sebagai syahrut tarbiyah, maka sebenarnya tujuan utamanya adalah melatih kita untuk selanjutnya mengamalkan dan membiasakan apa yang kita dapat dari pelatihan diri tersebut, sehingga hari-hari dan kepribadian kita lebih meningkat dan selanjutnya lebih berkualitas. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits Rasul yang kurang lebih bunyinya : “Barang siapa yang hari-harinya lebih baik dari harinya kemarin maka beruntunglah dia, dan barang siapa yang hari-harinya sama seperti hari kemarinnya maka merugilah dia, dan barang siapa yang hari-harinya lebih buruk dari hari sebelumnya maka terlaknatlah dia.”
Sekarang semuanya kembali kepada individu kita masing-masing, dimanakah kita akan memposisikan diri kita setelah Ramadhan berakhir. Apakah kita akan menjadi orang yang beruntung dengan keseharian, akhlaq, dan ibadah yang lebih meningkat setelah sebulan penuh kita berpuasa dan dikarantina dengan pelatihan rohani, atau kita akan menjadi orang merugi dengan keseharian serta kepribadian yang sama tanpa ada perubahan sedikitpun dan kehidupan kita berjalan begitu-begitu saja. Atau jangan-jangan kita akan menjadi orang merugi karena kualitas kita semakin merosot bahkan setelah Ramadhanpun, Na’udzubillah min dzalik. Sekali lagi, Ramadhan adalah momentum yang tiada duanya untuk bisa meningkatkan kualitas diri di hari-hari setelahnya dengan membiasakan diri beraktivitas seperti halnya aktivitas, dan anjuran-anjuran ibadah pada bulan ramadhan. Dengan kata lain kita meramdhankan diri kita dalam keseharian di luar bulan bulan suci ini. Karena kita tidak akan pernah tau, apakah kita masih bisa bertemu dengan bulan Ramadhan selanjutnya untuk bisa lebih mengevaluasi diri, sebab lagi-lagi menyinggung durasi usia manusia yang tak lepas dari kumpulan detik-detik yang terbatas yang hanya Allahlah yang tau kapan detik detik demi detik itu akan sampai pada batasnya. Wallahu A’lam