Minggu, 19 Juni 2016

Sah Tapi Kurang Etis


Lesehan #5

                Pada suatu kesempatan, saya dan gus Hasan shalat dzuhur berjamaah di salah satu masjid kecil di Islamabad. Ada pemandangan unik di shaf depan kami, di mana salah satu dari jamaah mengenakan pakaian yang lusuh dan sangat kotor. Saya sendiri mengakui bahwa hal tersebut justru mengganggu konsentrasi saat shalat, karena tepat sekali berada di depan saya. Yak, seperti pada foto yang anda lihat itu tepatnya, karena sehabis shalat langsung saya jepret.

Maka dibukalah obrolan setelah shalat oleh gus Hasan, “lihat yang tadi cak? Gimana menurut sampeyan?”

Selasa, 14 Juni 2016

Ramadhan, Bulan Eyel-eyelan


Lesehan #4

                Beberapa hari lalu  gus Hikam kirim pesan melalui WA ke handphone saya, beliau resah dengan perdebatan di kajian yang sempat diikutinya. Yagh…seperti biasa, pembahasan fiqih Ramadhan yang setiap tahunnya tak henti-henti dikaji, dengan tema yang sama, kontroversi yang sama, dan tak kalah penting eyel-eyelan yang sama. Apalagi kalau tidak seputar jumlah tarawih dengan jumlah 23 rakaat atau 11 rakaat.

Entah benar atau tidak, menurut saya perdebatan seperti ini biasanya hanya terjadi di kalangan level warung kopi saja, dimana siangnya mereka yang ribut soal jumlah rakaat tarawih, eh malamnya justru gak ikutan tarawih malah berjamaah ke pasar, nongkrong ke café, atau sok sibuk alasan ada kumpul, dan lain-lain.

Sabtu, 11 Juni 2016

Booking Ruangan unik di Surga

lesehan  #3

Sore kemarin sambil menunggu jemputan mobil ke Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk undangan buka bersama, terjadi obrolan menarik antara gus Hasan dan kang Abduh, sementara saya hanya menjadi pendengar setia.

“kang Abduh, sampeyan tau ndak ada sebuah riwayat  yang muttafaq  ‘alaih menjelaskan tentang salah satu karakter kanjeng Nabi bahwasanya beliau SAW adalah orang yang paling dermawan dan kedermawanan beliau itu makin kenceng saat masuk bulan ramadhan?”

“insyaAllah saya tau gus, kalo ndak salah bunyinya:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ
dari Ibnu bin ‘Abbas, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Kedermawanan beliau bertambah pada (bulan) Ramadhan ketika malaikat Jibril datang menemui nya. Jibril biasanya datang menemui beliau setiap malam pada (bulan) Ramadhan untuk membaca al-Qur’an kepada nya. Sungguh kedermawanan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam lebih baik daripada angin yang berhembus.” (Muttafaq ‘alaih)