Kamis, 23 Oktober 2008

Menelusuri Fenomena Pendidikan Di Tanah Air

Menelusuri Fenomena Pendidikan Di Tanah Air
oleh : Firman Arifandi

Bila kembali berbincang tentang pendidikan di Indonesia, serasa sangat mengiris hati rasanya dikala saudara-saudara kita di daerah pingiran,dan pedalaman tidak dapat mengenyam bangku sekolahan dengan sistem wajib belajar 9 tahunnya. Ironisnya, daerah yang belum tersentuh oleh pendidikan adalah daerah yang mempunyai kekayaan alam melimpah yang bisa menjadi aset tertinggi untuk devisa negara, akhirnya kekayaan tersebut jatuh ke tangan investor asing, mungkin salah satunya dikarenakan sumber daya manusia yang tidak memadai. Karena sebenarnya penyeimbang sumber daya manusia yang mumpuni adalah kualitas pendidikan yang bermutu pula.
Setidaknya ada banyak hal yang menjadi faktor mengapa pendidikan begitu langka di beberapa tempat di tanah air, dalam kata lain pelaksanaan pendidikan di Indonesia kurang merata bahkan terkesan tidak diperdulikan. Pertama, adanya diskriminasi dan pengklasifikasian dalam pendidikan. Saat beberapa sekolah membenahi kualitasnya, dengan meningkatkan mutu pengajar , fasilitas dan lain sebagainya, seperti sekolah-sekolah berbasis kompetensi misalnya, maka Beriring itu juga ternyata sekolah-sekolah tersebut akan menaikkan biaya sekolah dengan harga yang tidak dapat dirogoh oleh kantong orang-orang tak punya. Dari sini seakan timbul satu justifikasi bahwa yang berada di bawah garis kemiskinan tak bisa mengenyam bangku pendidikan berkualitas. Kedua, pandangan masyarakat awam umumnya yang menganggap sekolah tidak berguna dan tidak menghasilkan uang. Setitik realita saat mayoritas orang-orang berpendidikan tidak mempunyai pekerjaan alias pengangguran, sehingga citra sekolah di mata orang awam semakin negatif. Ketiga, tradisi kolot atau tradisi kuno yang masih saja dikonsumsi sampai saat ini terutama oleh masyarakat pedalaman. Sejenak mari kembali kita mengingat film Denias yang menggambarkan hukum adat dan tradisi di Papua, daerah pedalaman dengan peradaban yang tertinggal yang kadang tradisi tersebut diterima mentah-mentah begitu saja oleh para generasi-generasinya tanpa adanya pertimbangan mengenai baik dan buruknya warisan adat tersebut. Saat ketidakadilan hukum adat yang hanya memperbolehkan anak-anak kepala suku untuk bersekolah,sehingga menimbulkan ketidaksadaran di antara orang-orang itu akan pentingnya pendidikan. Keempat, subsidi pendidikan yang mungkin kurang tepat sasaran. Saat ini pemerintah telah melakukan banyak hal menyangkut program-program pendidikan. Sekalipun subsidi pemerintah untuk pendidikan dianggarkan 20% dari APBN, namun semuanya serasa tidak terealisasikan secara maksimal saat ternyata daerah-daerah pelosok masih saja terbelakang dengan fasilitas sekolah yang tidak memadai bahkan bangunan gedung sekolahpun yang mengenaskan tak layak pakai. Kita tidak perlu mengkambing hitamkan siapa dan pihak mana yang belum mendistribusikan anggaran itu kini, tidak perlu jauh memperbincangkan fasilitas, komputerisasi dan lain-lain, cukup satu pertanyaan saja menyinggung itu semua ”kapan sekolah-sekolah itu direhab?”. Satu contoh lain menyangkut program pemerintah dalam menindaklanjuti masalah keterbelakangan untuk masyarakat pinggiran dan mereka yang ada di bawah garis kemiskinan adalah diadakannya BOS (Biaya Operasional Sekolah) yang membebaskan anak-anak mereka dari biaya SPP. Kerap ini cukup untuk sekedar meringankan orang-orang tak punya dalam menyekolahkan anak-anak mereka. Tapi kini, lagi-lagi timbul permasalahan saat biaya hidup melonjak naik , BBM langka dan kemudian mahal, maka harga kebutuhan sekolah anak-anakpun ikut mahal, kembali timbul pertanyaan di benak mereka ” memangnya biaya sekolah hanya SPP saja?”
Empat permasalahan di atas setidaknya adalah miniatur atau sekedar contoh kecil dari sekian banyak realita permasalahan yang menyebabkan minimnya kualitas pendidikan di daerah terpencil, khususnya. Namun, jika kita fokus dengan keempat faktor tersebut, setidaknya ada pula beberapa tindakan yang bisa ditawarkan sekalipun hanya untuk sekedar meminimalisir ketidakseimbangan tersebut.
A. Membentuk pandangan positif mengenai pentingnya pendidikan
Realita warisan tradisi nenek moyang yang ada seperti di Papua tersebut, sekiranya bisa diminimalisisir bila pemerintah daerah setempat, tokoh-tokoh masyarakat, dinas-dinas swasta dan lain sebagainya mau perduli akan pendidikan anak-anak dan masa depan daerah mereka. Sebenarnya itulah kewajiban bagi mereka untuk meluruskan pandangan masyarakat, bahwa pendidikan adalah sebuah proses untuk membentuk sikap, prilaku, serta mengasah kemampuan kita. Dengan mendirikan sekolah di daerah-daerah pedalaman, adalah suatu hal yang mungkin sekali dilakukan pemerintah dalam upaya meratakan pendidikan di tanah air, karena kendala yang juga ada adalah bukan hanya tradisi yang membatasi mereka untuk bisa menyentuh bangku sekolah, tapi juga letak sekolah yang jauh di kota sana.
Menyikapi pandangan orang awam yang terkesan pesimis dengan sekolah yang menurut mereka tidak mampu menghidangkan lapangan pekerjaan, adalah dengan kembali merefresh pandangan mereka menjadi positif. Apabila SDM kita sudah mumpuni, walaupun lapangan pekerjaan di instansi-instansi tertutup rapat maka kita akan mampu membuka atau mencari bahkan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Peran tokoh masyarakat dalam hal ini sangat dibutuhkan.
B. Subsidi yang tepat sasaran
Lagi-lagi pemerintah diharapkan untuk bisa lebih konsentrasi akan hal ini. Subsidi yang dikeluarkan pemerintah untuk program pendidikan sekiranya sudah banyak dan cukup untuk bisa direalisasikan. Hanya saja, mungkin dalam prakteknya dilapangan mereka kurang bisa tepat sasaran. Contoh kecil yang kongkrit, dalam program kebijakan pembangunan lima tahun (2005-2009). DEPDIKNAS memprogramkan banyak hal seperti rehabilitasi gedung sekolah, BOS (Biaya Operasional Sekolah), dan program pemanfaatan teknologi dan informasi . Yang nampak selama ini di lapangan adalah pesatnya komputerisasi di beberapa sekolah, sementara sekolah-sekolah yang lain bangunannya hampir rubuh dan bahkan belum ada tindakan rehabilitasi sedikitpun. Bukan bermaksud mengkambing hitamkan pemerintah, namun sekedar harapan agar bisa bertindak lebih objektif lagi sehingga sasaran yang dituju bisa benar-benar tepat.
C. Sosok Pendidik yang all out
Mungkin gagasan kalimat di atas cukup akan dipandang sebelah mata oleh sebagian besar orang. Namun bagaimana lagi? memang demikian kenyataanya. Sosok Pendidik atau guru adalah sebagai figur dan ibarat sebuah pondasi dalam dunia pendidikan. Proses pendidikan yang maksimal akan terbentuk pula bila sosok yang dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa ini juga maksimal dalam melaksanakan tugasnya. Maka dari itu, perlu kembali diingat bahwa pendidik itu adalah profesi bukan pekerjaan. Dalam artian, adalah salah bila yang menjadi target utama dalam mendidik adalah mengejar keuntungan berupa materi bukannya pelayanan terhadap masyarakat. Apalagi tenaga pengajar yang ada di daerah terpencil, sangat mustahil bagi mereka akan mendapatkan keuntungan finansial ketika memutuskan untuk menjadi pendidik di daerah terebut, lebih-lebih jika hanya menjadi guru honorer. Lantas, apakah guru tidak butuh duit?
Layaknya manusia bermasyarakat pada umumnya, seorang guru juga tentunya membutuhkan sumber penghasilan yang cukup untuk hidupnya. Siapa lagi yang perduli pada kehidupan mereka kalau bukan pemerintah. Maka dari sini pemerintah juga selayaknya memperhatikan kesejahteraan mereka, sang pendidik. Sehingga mereka bisa all out dalam profesinya. Kenyataan yang ada di tanah air adalah kebanyakan para guru disibukkan dengan pekerjaan sampingan sepulang aktivitas sekolah. Kapan mereka istirahat? Bagaimana persiapan mengajar untuk esok harinya? Kekhawatiran inilah yang kerap muncul ketika kesejahteraan guru sedikit kurang diperhatikan, karena sebenarnya pada pundak merekalah masa depan bangsa dibebankan.

Referensi :
www.depdiknas.go.id

1 komentar:

infoGue mengatakan...

Artikel anda di

http://pendidikan.infogue.com/menelusuri_fenomena_pendidikan_di_tanah_air

promosikan artikel anda di infoGue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, game online & kamus untuk para netter Indonesia. Salam!