Kamis, 25 Juli 2013

Ringan Kok…Tapi Jangan Ditinggal (Refleksi Dispensasi Ibadah)


Bondowoso…I’m Comiiiing (versi madura : bendebesah…sengko’ deteeeng). Siapa yang gak seneng kalau lima tahun berada di Pakistan yang sarat konflik, trus pulang kampung liburan, Ramadhan pula. Semua pasti seneng, aku aja seneng, bapakku seneng, ibuku, masku, mbak iparku, tetangga, anak tetangga, keponakan tetangga, pak Haji Burhan (yang mana ya?), sampe temenku juga seneng. Kalo temen-temen itu senengnya karena mereka girang bakal dapet oleh-oleh gantungan kunci dari luar negeri, bisa diprediksi demikian.

Mudik kali ini, rute penerbanganku gak langsung makjlep Islamabad-Surabaya. Tapi dari Islamabad ke Cairo dulu sepuluh hari ikutan Simposium Internasional PPI Kawasan Tim Teng dan Afrika, yang ini ntar aja ceritanya. Nah, dari cairo ke jakarta seminggu ngatur ketemuan sama salah satu orang yg kerja di penerbit, namanya Mas Dude, tapi bukan Dude Herlino, sumpah ga sama mukanya. Nah… yang di jakarta ini juga ntar aja ceritanya.

Trus…sampeyan mau cerita apa cak?

Sekarang ini, sampeyan mau tak ceritain perjalananku dari Surabaya ke Bondowoso, kota kelahiranku.  Karena perjalanan kali ini bukan naik bus, tapi dijemput spesial oleh pick up cabe yang biasa nganter cabe-cabe bapakku ke Cargo pesawat. Yagh begitulah kira-kira. Tepat pukul 22.15 saya mendarat dalam keadaan tampan dan baik hati di Juanda International Airport Surabaya setelah sebelumnya penerbangan delay 2 jam dari Soetta. Yak..kemudian saya nunggu jemputan spesial itu, karena diperkirakan jam 1.00 mobil pick up Grand max biru gelap itu akan tiba di cargo Juanda.

Singkat kata, aku sudah di dalam mobil perjalanan ke Bondowoso. Ngobrol ngalor ngidul sama Kang Sul, supir pick up cabe yang sudah lama aku kenal. Mulai dari nanya kabar, keadaan di Islamabad, cerita kuliah, cerita perjalanan kongres di cairo kemarin, cerita pertemuan pertama sama keponakanku di jakarta yang sejak lahir sampai usianya 16 bulan aku belum pernah ketemu sama dia, Cuma sering dikirim-kirim fotonya sama masku via chat. Banyak deh yang jadi bahan obrolan kami sepanjang perjalanan, sampai mentok kepada curcolnya kang Sul yang mengeluh bahwa ibadahnya sampai usia setua itu belum sepenuhnya dilakukan komplit. Alasannya, tuntutan pekerjaan yang memakan waktu shalat. Pekerjaannya sebagai supir kurir yang menuntutnya untuk selalu tepat waktu mengejar waktu penerbangan masukin barang ke cargo.
“kalau saya ini dek, nyupir malam harus cepat, ngejar waktu supaya cabe nyampenya gak telat. Sampe rumah pagi sebelum subuh saya harus istirahat, trus bangun pagi harus ke pasar kerja nyupiri  barang-barang pasar. Kerja saya ini memberatkan saya untuk melakukan shalat, tapi kan saya bekerja untuk menghidupi keluarga, toh Allah paham keadaan saya” ujarnya kepadaku.

Hmm…miris sekali, tapi ya aku belum berani langsung komentar. Kita coba melalui pendekatan lain, kebetulan perjalanan ini mendesak kami untuk sahur di jalan. Seusai sahur, kami lanjutkan perjalanan, dan ketika masuk waktu subuh, sang supir tidak mencoba berhenti di masjid karena dia harus bergegas ke pasar untuk angkut barang-barang di pasar dengan mobil angkutan yang dia punya. Kesiangan sedikit dia akan ketinggalan pelanggannya. Aku kira, ini saat yang tepat untuk memahamkannya sisi-sisi keringanan dalam Islam dengan memberikannya contoh langsung.

Yasudah, akhirnya saya sholat di mobil saja dengan isyarat-isyarat gerakan shalat seraya mobil melaju. Bagi sejumlah orang mungkin hal ini biasa dilakukan, terlebih ketika di pesawat yang memakan waktu lebih dari dua waktu shalat. Namun, bagi orang-orang awam tentu pemandangan ini sangat aneh sekali, terlebih mereka yang gak pernah mendapat pengetahuan tentang fikih keringanan dalam shalat seperti jama’, qashar, dan shalat dalam kendaraan.

“maaf dek, saya mungkin ndak tau ilmunya. Cuma saya mau tanya, sampeyan shalatnya kok aneh, kenapa di dalam mobil? Apa boleh shalat seperti ini?” tanya Kang Sul.

“Begini kang, Islam itu memerintahkan kita untuk melakukan shalat sebagai wujud kepatuhan, loyalitas kita sebagai muslim kepada Allah. Kecintaan kepada Islam gak cukup hanya dengan hati, tapi perlu dibuktikan dengan hadir kepada perintah-perintahNya. Tadi sampeyan bilang dengan keadaan sampeyan yang super sibuk menafkahi keluarga, Allah bakal paham keadaan sampeyan dan memaklumi keadaan ibadah yang bolong-bolong. Saya benarkan itu, Allah Maha Tau akan segala keadaan hambaNya, tapi  Ibadah harus tetap jalan, maka dengan memaklumi keadaan yang super sibuk hingga harus melewati sejumlah waktu shalat di perjalanan itu, Allah memberikan keringanan kepada orang Islam untuk tetap shalat dengan tata cara yang lain, yang lebih mudah, ringan, dan tidak memberatkan aktivitas orang tersebut. Islam itu indah dengan keringanan-keringanan bentuk ibadah yang disediakan. Seperti tadi, karena kita ini harus bergegas dalam perjalanan, maka saya melakukan shalat di dalam mobil, dan ini sering juga dilakukan di dalam pesawat, karena tidak mungkin untuk melakukan jama’ mengingat kita sudah melewati dua waktu shalat yang sudah dijama’ sebelumnya. Bahkan kalau sampeyan sakit, Islam membolehkan sampeyan shalat sambil duduk kalo ga kuat berdiri. Bahkan kalo ga bisa dudukpun, shalatnya sambil tiduran. Itulah dispensasi yang diberikan Islam terkait shalat, ringan bukan? Tapi jangan ditinggalkan”

“ooo…gitu ya? Lah kalo saya kan nyetir?” tanyanya

“masak toh sampeyan ndak bisa nyisihkan 15 menit saja utk turun sebentar ke masjid yang dilewati? Kalau sempat ya turunlah, kalau memang tergesa-gesa mengejar waktu, ya shalatlah sambil nyetir” ujarku

“apa boleh?” tanyanya lagi

“boleh kalo memang mendesak sekali” jawabku

“wah mudah ya”

“iya, tapi jangan dibiasakan, jangan juga ditinggalkan, sudah dikasih keringanan menjama’ shalat, mengqashar, shalat di kendaraan, malah masih mau ninggalin shalat. Harus diingat kang, hal pertama yang ditanya di akherat nanti bukan seberapa besar nafkah anda kepada keluarga, tapi shalat anda selama hidup, rasulullah bersabda : “Yang pertama kali ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat adalah perhatian kepada shalatnya. Jika shalatnya baik, dia akan beruntung (dalam sebuah riwayat disebutkan: dia akan berhasil). Dan jika shalatnya rusak, dia akan gagal dan merugi.” (HR Ath Thabrani, shahih)
Di qur’an juga banyak kan disebut-sebut perintah tentang mendirikan shalat. Saya yakin kang Sul sering dengar lah dari ceramah-ceramah isro’ mi’roj.” Tambahku

Termasuk ancaman bagi yang meninggalkan shalat, seperti dalam Qur’an surat al mudatssir ayat 42 & 43 :

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ. قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَ

“Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat….”

Juga di surat al-maun ayat 4 dan 5:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّيْنَ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُوْنَ

“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dari mengerjakan shalatnya….”

Nah, orang yang lalai sholat aja diancam lho sama Allah, apalagi yang meninggalkan. Lagian ya kang, sehari ini kita itu Cuma diminta 5 kali lho ngadep gusti Allah, durasi untuk ngadep urusan dunia justru lebih banyak, masak ya segitu teganya kita mentingkan urusan dunia dan ngeduain Allah. Bahkan sudah dikasih keringanan lho, sampe kalo ndak bisa wudhupun silahkan tayamun pake debu.

“wah astaghfirullah… seringan itu ya agama ini soal ibadah, saya ndak tau”

“iya kang…ringan kok, tapi sudah ringan begini, jangan ditinggal lho ya” tegasku sambil senyum.

“trus saya gimana?”

“ya sholat”

“sambil nyetir?”

“kalo bisa turun di masjid ya turun”

“ndak sempat lagi”

“ya udah sholat sambil nyetir aja, mau syuruq ini”

“iya” ujarnya sambil diam kemudian sesekali terdengar melafadzkan bacaan shalat.

Seusai shalat, aku nyoba ingetin dia lagi. Yang begini jangan keseringan, nanti jadi kebiasaan. Tetap usahakan untuk datang shalat dalam keadaan sempurna kang, sempatkan singgah ke masjid meski tidak berjama’ah. InsyaAllah akan dibukakan oleh Allah kemudahan-kemudahan yang lain. bahkan dijauhkan dari bahaya, serta menghindarkan dari perbuatan keji dan mungkar.

“kalo sudah gak berbuat keji dan mungkar berarti sudah ga usah shalat lagi ya…hahahaha…” jawabnya sambil tertawa

“lah justru ketika sampeyan ninggalin shalat itu suah berbuat mungkar, karena sudah gak patuh sama perintah Allah, yaitu shalat”

Dia manggut-manggut tanda mengerti (atau jangan-jangan ngantuk), aku tersenyum ringan sambil buka bungkus permen yang nganggur di dekat deretan depan setir. Itu lho…yang kalo di iklan tivi permennya itu permen yang bisa ngomong. Sejuknya ke kerongkongan.

“mas…!!” gertak kang Sul mengagetkanku

“hah..apa?” jawabku kaget

“puasaaaaaaa….” Sambil nunjuk ke mulutku yang lagi nguyah permen. Langsung tak kluarin itu permen dari mulut trus kuminum air supaya rasa permennya hilang.

“mas..!!” gertaknya lagi

“apa lagi..??” aku jawab

“puasa… kok minum” ujarnya…

“loh iya ya, astaghfirullah…subhaanalladzi la yashuu wa laa yanam” jawabku miris.

“he he he… pancen ringan mas, tapi jangan ditinggalkan” pungkasnya sambil ketawa.


24/7/2013









           




3 komentar:

Anonim mengatakan...

caritanya keren, balik ke Islamabad jagan lupa bawa ole2 y..!!!:)

Firman arifandi mengatakan...

mau oleh2 apa? ini siapa?

Neng Fauziya mengatakan...

Sholat itu emang penenang hati yang paling tokcer...sayang, manusia bnyak yg suka ngeles sholat gara2 sibuk. Nice post masnyaaaa...